Kisah Perjalanan Sufi Imam Ghazali
Kisah Perjalanan Sufi Imam Ghazali
Imam Ghazali
mengalami masa-masa gelisah dalam hidupnya, dan ketika sampai di titik gelisah
ini Imam Ghazali merasakan keraguan yang sangat, Imam Ghazali meragukan
seluruh ilmu yang dimilikinya. Dan keraguan itu pun mencapai titik puncak
yang mengakibatkan Imam Ghazali tidak mampu lagi mengajar, tidak
mampu lagi menyuguhkan dalil-dalil naqliah dan akliah, bahkan begitu payahnya
sampai-sampai Imam Ghazali tidak mampu lagi untuk berbicara. Imam Ghazali
merasakan dahaga akan ilmu ontologi. Imam Ghazali mendambakan wawasan
ketuhanan yang bersifat niscaya dari pengalaman intuitif yang diperoleh
secara langsung bukan sekedar berdasarkan bukti-bukti dari naqli bayaniah dan
dalil-dalil spekulatif-filosofis.
Di saat
itu, Imam Ghazali meninggalkan Baghdad dan Universitas Nizamiyyah untuk
mengerjakan uzlah ke berbagai daerah: Damaskus, Palestina, Mesir, Makkah, dan
Madinah. Padahal di saat itu pula, nama Imam Al-Ghazali sedang berada di puncak
kemasyhurannya. Saat itu Imam Ghazali sedang menjadi Rektor dan Profesor
dalam ilmu hukum di Universitas Nizamiyyah, Imam Ghazali mempunyai
murid-murid cerdas yang juga sudah menjadi ilmuwan, dan Imam Ghazali
merupakan satu-satunya ilmuwan yang juga merangkap mufti, Imam Ghazali
di Universitas Nizamiyyah juga menjadi seorang mufti yang sangat dihormati,
didengarkan, dan disegani oleh pembesar istana saat itu.
Singkat
kisah, sejak saat itulah Imam Ghazali menempuh jalan suluk sufistik
dengan melakukan mujahadah dan riyadhah yaitu dengan menanggalkan
pakaian-pakaian kebesarannya lalu memakai pakaian yang buruk, lusuh, dan
kumel supaya tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Tetapi di satu
waktu di perjalanan uzlahnya, dalam keadaan yang begitu kumel layaknya seorang
gelandangan, Imam Ghazali kedapatan salah seorang murid lamanya yaitu Abu
Bakar al-Ma'afiri. Dengan penuh rasa hormat ta'dzim, secepatnya
al-Ma'afiri menanyakan alasan sang guru mengapa meninggalkan majlis
pengajarannya, "Wahai guruku, mengapa engkau tinggalkan kami semua yang
begitu dahaga dengan mata air ilmu yang kau miliki? Bukankah diri ini
sibuk bersama dunia ilmu pengetahuan jauh lebih besar manfaatnya daripada sang
guru terkatung-katung dalam kondisi seperti ini?" kalau halnya
demikian, lalu apa yang membawa sang guru membuang keagungan julukan
seorang ulama dan berganti dengan keadaan yang demikian sangat
memprihatinkan? Bersediakah sang guru menjelaskan kepadaku alasannya?"
Imam
Al-Ghazali berangan-angan jauh seakan menangkap masa lalunya dengan jelas dan
memberi jawaban analogi yang membuat si murid diam,"Aku mengait
pakaian-pakaian yang begitu indah bagi siapa saja yang
membutuhkannya. Tetapi setelah aku teliti dengan cermat, ternyata aku tidak
menemukan seorang pun yang mampu merajut pakaian-pakaian yang aku butuhkan. Akhirnya
aku hancurkan semua pintalanku. Kerana apalah artinya memberi busana orang lain
dengan pakaian-pakaian indah sementara pribadi sendiri masih terus saja
telanjang?!" Imam Ghazali terus melakukan pencarian spiritual kurang lebih
selama sepuluh tahun sampai akhirnya tirai-tirai kegaiban disibakkan. Imam
Al-Ghazali merasakan kehadiran Sang Khalik langsung melalui penglihatan mata
batin (bashiroh). Hilanglah semua keraguan yang menyelimuti hatinya selama ini,
dan Imam Ghazali berhasil memegang mutiara keyakinan yang disebut oleh
orang-orang bijak dengan haqqul yaqin, sebuah keyakinan langsung
melalui mata hati.

Post a Comment for "Kisah Perjalanan Sufi Imam Ghazali"