Kisah Kegelisahan Imam Al Ghazali
Tahukah anda bahwa Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad Al-Ghazali sang Hujjatul Islam juga pernah merasakan kegelisahan dalam kehidupannya. Sikap krisis dari Imam Ghazali membuat Imam Ghazali sampai kepada puncak kegelisahan, secara alami Imam Ghazali merasakan sikap penasaran dan dan skeptis dalam menerima kebijaksanaan. Imam Ghazali mempertanyakan segala sesuatu dan melakukan segala sesuatu untuk mencari jawabannya. Imam Ghazali merasa terganggu dengan konflik antara pandangan kaum rasionalis dan tradisionalis, disisi lain pandangan kaum rasionalis lebih mendahulukan akal manusia yang dirasa lebih unggul ketimbang wahyu Ilahi. Sedangkan bagi kaum tradisional mengatakan bahwa wahyu Ilahi sudah sempurna, dibandingkan dengan akal manusia yang tidak sempurna.
Kegelisahan Intelektual dan spiritual Imam Ghazali membuat Imam Ghazali meneliti berbagai ilmu yang sedang populer kala itu, diantaranya, Ilmu Kalam, Filsafat, Aliran-aliran batiniah, dan Tasawwuf. Dan Imam Ghazali dengan cemerlang melalui penelusuran dan penelitiannya terhadap Ilmu Kalam berhasil menghasilkan pelbagai karya dari Ilmu Kalam tersebut , diantara karya Ilmu Kalam yang telah berhasil dikarang oleh Imam Ghazali adalah Mi'yar al-Ilmi, dan Itsbat al-Nadzar. Yang mana kitab-kitab karya dari Imam Ghazali tersebut sampai sekarang masih dikaji di sebagian besar pesantren Salafiyah di negara kita. Ilmu logika dan Ilmu Kalam belum mampu memuaskan hasrat ingin tahu Imam Ghazali. Sehingga Imam Ghazali kembali memperdalam keilmuan untuk memenuhi hasrat ingin tahunya, Imam Ghazali kembali memperdalam keilmuan di bidang filsafat, dan di bidang filsafat Imam Ghazali berhasil membuahkan karya yang filosofis seperti, Maqashid al-Falasifah, dan Tahafut al-Falasifah. Karya yang terakhir tersebut ditujukan untuk mengkritisi pandangan-pandangan filosofis, terutama Ibn Sina.
Kedahagaan Intelektual dari Imam Ghazali belum terpuaskan. Selanjutnya Imam Ghazali masuk gelanggang pemikiran kaum Syiah Batiniyah yang mengandalkan Imam-imam mereka yang diklaim ma'sum atau terjaga dari dosa. Imam Ghazali menelisik dengan secara tajam, jernih, dan kritis alasan Imam-imam mereka, yang membuat Al-Ghazali tidak menerima begitu saja dan harus bersandar secara utuh kepada Imam-imam ma'sum mereka. Bagi Imam Ghazali, kema'suman hanya dimiliki oleh Rasull SAW.., bahkan dalam beberapa aspek Rasull pun mempunyai kelemahan. Secara keilmuan Imam Ghazali masih merasa belum puas dengan keilmuan yang didapat dan menjadikan Imam Ghazali terus menekuni berbagai keilmuan saat itu.
Sumber: Nahdlatul Ulama
Post a Comment for "Kisah Kegelisahan Imam Al Ghazali"